Empat orang ibu tani menunduk di antara bedengan sayur dalam ilustrasi di dada kaos ini — mengenakan caping, memetik daun satu per satu, dengan rumah joglo dan pohon pisang di latar belakang. "KWT Desa Nanggulan" melingkar di bawahnya, bersama tagline "Bersama Menanam, Bersama Berkembang". Di punggung, tipografi besar bergaya vintage menegaskan semangatnya sendiri: "Nanggulan Unggul, Nanggulan Makmur".
Tiga puluh kaos ini dipesan Kelompok Wanita Tani Desa Nanggulan, Kecamatan Cawas, Klaten — bukan untuk acara sekali pakai, tapi seragam rutin yang akan dipakai bolak-balik ke kebun dan pertemuan kelompok. Ini yang membedakan cara memilih warnanya dari kaos-kaos komunitas kebanyakan.
Green army dipilih bukan tanpa pertimbangan. Warna gelap seperti ini memang lebih menyerap panas dibanding warna terang — bukan pilihan ideal kalau dipakai berjemur seharian penuh di bawah matahari. Tapi untuk kerja di lahan, kelebihannya lebih terasa: tidak gampang kelihatan kotor kena tanah atau lumpur, dan tetap terlihat rapi meski sudah dipakai menanam dari pagi. Sesuatu yang praktis lebih penting di sini daripada sekadar warna yang adem dipandang.
Sablon plastisol dipakai di kedua sisi, dengan bahan cotton combed 24s yang lebih tebal — pilihan yang masuk akal untuk seragam yang akan sering dicuci dan dipakai ulang, bukan kaos yang cuma difoto sekali lalu disimpan di lemari.
Setiap kaos KWT Nanggulan ini tetap terhubung ke
sistem Living Garment, dicatat setiap kali dipakai ke kebun maupun ke pertemuan kelompok. Kalau penasaran seperti apa seragam komunitas lain di sekitar Klaten, ada di
sablon Klaten.