Motif awan biru tua-biru muda melingkari logo merah "Guyup Rukun RT 10 Sak Lawase" di ujung bawah kaos ini' — gaya mega mendung yang akrab di mata, tapi disesuaikan jadi identitas sendiri untuk satu RT. Enam puluh lima potong dipesan sebagai seragam ibu-ibu RT 10, Dukuh Karangri, Desa Puluhan, Trucuk, dipakai bareng-bareng di acara 17 Agustusan.
Sebelum sampai ke desain final, tim Blumbang ID sempat mengajukan dua pilihan warna outline — satu list putih, satu list emas. Ibu-ibu RT 10 pilih yang putih, dan alasannya sederhana tapi tepat: warna kaosnya beige, jadi list emas justru menyatu dengan kain dan kurang kelihatan, sementara list putih tetap tegas kontras dari jarak jauh. Keputusan kecil yang ternyata soal keterbacaan, bukan cuma selera.
Motif ini juga tidak langsung cetak begitu saja. Warna-warnanya dipecah manual dulu sebelum jadi film sablon — bagian putih dan list biru muda digabung jadi satu warna, biru muda diberi blok putih tambahan, biru tua dilubangi bagian putihnya, dan logo bundar merahnya dibuat full blok. Detail sekecil ini yang menentukan apakah hasil sablon nanti rapi atau malah blur di pinggirannya.
Potongannya sendiri dibuat dengan pertimbangan yang sama — bagian bawah oval, bukan lurus rata seperti kaos oblong biasa, memberi kesan lebih rapi saat dipakai. Ada dua pilihan lengan, 7/8 dan panjang, jadi ibu-ibu bisa sesuaikan dengan kenyamanan masing-masing. Sablon plastisol dipakai untuk motif sepanjang 30cm ini, di atas bahan katun combed 24s warna beige — dipilih karena lebih tebal, cocok untuk potongan yang dirancang memang untuk dipakai ibu-ibu sehari-hari, bukan kaos oblong pada umumnya.
Setiap kaos RT 10 Karangri ini tetap terhubung ke
sistem Living Garment, dicatat sejak 17 Agustus nanti sampai ke mana pun dipakai setelahnya. Kalau penasaran seperti apa seragam lain yang pernah dikerjakan di sekitar sini, ada di
sablon Klaten.