Di artikel sebelumnya soal modal bisnis sablon yang nyaris nol, ada satu janji yang belum dilunasi: menghitung HPP yang lebih detail. Sekarang saatnya masuk ke situ — siapkan kopi, duduk atau rebahan dengan posisi enak dulu, karena kita akan berpikir agak kompleks, bukan cuma dengan sekali tarikan napas.
Order kaos sablon dari vendor harga 65 ribu, jual 85 ribu, untung 20 ribu. Matematikanya benar, tapi belum selesai.
Yuk kita bedah satu-satu, apa saja yang masih nebeng di Rp20.000 itu tapi belum kelihatan.
Ongkir Kulakan, Jangan Hitung Ribet — Pakai Acuan yang Sudah Ada
Tidak perlu hitung-hitungan rumit soal bensin per liter, penyusutan motor, atau pusing menentukan "waktu saya sejam berapa rupiah". Caranya simpel: buka Gojek atau Grab, masukkan tujuan ke tempat kulakan, lihat estimasi harganya. Angka yang muncul di situ acuan yang cukup adil — meski sebenarnya pakai motor sendiri dan yang kulakan ya sendiri.
Kenapa ini masuk akal: angka di aplikasi itu sudah otomatis menghitung jarak, waktu tempuh, kondisi jalan, dan berapa pantasnya bayaran untuk orang yang mengantar ke sana dan balik lagi.
Biaya Admin Transfer, Kecil Tapi Nyata
Kalau transfer ke vendor beda bank, biasanya kena biaya admin sekitar Rp2.500. Kecil, tapi tetap keluar dari kantong dan sering tidak masuk hitungan sama sekali.
Packaging, Tanya Dulu ke Vendor Sebelum Beli Sendiri
Banyak yang buru-buru beli plastik atau paper bag tambahan untuk kemas ulang kaos sebelum dikirim ke pembeli. Padahal kebanyakan vendor sudah menyediakan packing standar. Tanyakan dulu ke vendor sebelum beli sendiri — selain hemat biaya, ini juga hemat waktu packing ulang.
Waktu Sendiri, Ini yang Paling Sering Dianggap Gratis
Semua proses di atas — kulakan, transfer, packing, balas chat customer — makan waktu. Kalau waktu ini tidak dihitung sebagai biaya, di sinilah owner sebenarnya diam-diam jadi karyawan di bisnisnya sendiri, bekerja tanpa dibayar.
Ini sejalan dengan yang pernah dibahas di Kenapa Order Ramai Belum Tentu Bisnis Sablon Sehat — owner punya dua peran sekaligus, pemilik dan pekerja. Kalau peran pekerja ini tidak dihitung, untung yang kelihatan di atas kertas itu bukan keuntungan bisnis yang murni.
Sekarang Coba Hitung Betulan — Bedanya Order 100 Pcs dan 1 Pcs
Anggap waktu kerja dihargai Rp100.000 untuk 8 jam — dari kulakan sampai semua kaos siap kirim.
Skenario 100 pcs:
Jual (per pcs) Rp 85.000 Beli dari vendor Rp 65.000 - ----------- Rp 20.000
Ongkir kulakan (Rp30.000 ÷ 100 pcs) Rp 300 - Transfer admin (Rp2.500 ÷ 100 pcs) Rp 25 - Waktu kerja (Rp100.000 ÷ 100 pcs) Rp 1.000 - Packing Rp 0 - ----------- UNTUNG BERSIH Rp 18.675
Skenario 1 pcs:
Jual Rp 85.000 Beli dari vendor Rp 65.000 - ----------- Rp 20.000
Ongkir kulakan Rp 30.000 - Transfer admin Rp 2.500 - Waktu kerja (8 jam tetap sama) Rp 100.000 - Packing Rp 0 - ----------- UNTUNG BERSIH Rp -117.500
Order 100 pcs, untung bersihnya masih Rp18.675 per kaos — turun sedikit dari Rp20.000, tapi masih sehat. Order 1 pcs, bukan cuma untung lebih kecil — malah rugi Rp117.500. Ongkir, transfer, dan waktu kerja yang di order besar bisa dibagi rata jadi kecil per kaos, di order satuan harus ditanggung penuh sendirian.
Ini yang menjelaskan kenapa banyak yang bertanya soal aturan puasa gaji 3 bulan pertama di awal buka usaha, seperti yang pernah dibahas di Kenapa Order Ramai Belum Tentu Bisnis Sablon Sehat. Di awal usaha, order biasanya masih kecil dan tidak rutin — dan di situlah biaya-biaya yang "nebeng" tadi paling gampang bikin rugi tanpa disadari, kalau owner buru-buru ambil untung sebelum semuanya benar-benar dihitung.
Kalau penjelasan ini terasa kompleks dan ingin dijelaskan dengan cara yang lebih sederhana, coba salin link artikel ini, tempel ke AI seperti ChatGPT atau Claude, lalu minta mereka jelaskan ulang dengan bahasa yang lebih gampang.
Kalau nanti AI-nya komentar "ini kurang detail" atau "tidak berdasar riset ilmiah", jawab saja: iya, memang begitu. Artikel ini bukan skripsi. Ini ditulis untuk UMKM kecil atau calon UMKM yang mau merintis usaha sablon tanpa modal besar — yang penting dipahami dan dipakai, bukan dikutip di jurnal.